Press Release BERPIJAR Bersama Psikologi dan BK, Kita Belajar “Healthy Relationship”

Pada kalangan remaja, memiliki relasi yang sehat merupakan salah satu modal yang perlu diupayakan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan membangun jejaring yang luas dengan lebih baik. Begitu pula di relasi pribadi dengan lawan jenis yang terbangun dalam hubungan romantik yang seringkali disebut dengan pacaran.

Tidak ada yang mengatakan bahwa pacaran adalah suatu keharusan karena memang tidak ada di tugas perkembangan manusia. Yang ada adalah mengenal lawan jenis sebagai calon pendamping dalam berkeluarga. Ketika remaja memutuskan berpacaran, hubungan yang saling mendukung dan membangun di dalamnya perlu dikelola dengan baik.

Robert J Stenberg, melalui Teori Segitiga Cinta menjabarkan bahwa cinta terdiri dalam kedekatan, hasrat dan komitmen. Kedekatan (intimacy) membuat setiap orang memiliki kedekatan emosional dengan pasangatn sehingga kita ingin akrab, hangat, menghormati dan mempercayai pasangan kita.  Hasrat di dalam cinta menyebabkan seseorang ingin dekat secara fisik. Sedangkan komitmen mendorong individu mempertahankan hubungan cinta dengan pasangan yang dicintainya. Sayangnya, tidak semua remaja mampu mengembangkan relasi yang baik. Tidak sedikit yang terjebak dalam hubungan yang “toxic” atau meracuni.  Remaja, dengan beragam karakteristik positif yang mewarnai di dirinya, terkadang tidak menerjemahkan ketiga hal tersebut secara tepat.

Fenomena “BUCIN” atau “budak cinta” lahir dari penerjemahan yang kurang tepat pada ketiga hal tersebut. Sering ditemui remaja yang rela 24 jam dalam satu minggu memilih untuk selalu ada bagi pasangannya yang membuatnya melupakan kepentingan dan kebutuhan pribadi maupun keluarganya. Kuliah menjadi berantakan, orang tua menjadi kehilangan peran dari anaknya, maupun ia pun menjadi tidak memperhatikan perkembangan pribadi dan sosialnya. Belum lagi, banyak yang demi mendapatkan kedekatan perhatian dari pasangannya dan kesalahan mengartikan komitmen, ia rela diperlakukan bagaimana saja oleh pasangan tanpa ada keberanian mengemukakan dirinya. Hal ini membuat remaja rentan menjadi korban kekerasan dalam pacaran.

Mengamati fenomena tersebut, Pusat Bimbingan Konseling dan Layanan Psikologi – Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) Universitas PGRI Semarang mengadakan kegiatan Psikoedukasi dengan nama BERPIJAR (Bersama Psikologi dan BK, kita Belajar), yang mengusung tema “Healthy Relationship” pada Hari Kamis, 28 November 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan kedua yang dilakukan di tahun 2019. Adapun tujuan kegiatan BERPIJAR ke-2 ini memberikan kesadaran kepada mahasiswa mengenai relasi sehat yang dapat mereka bangun sehingga setiap pribadi yang terlibat dalam relasi ini memiliki kesempatan pengembangan potensi diri secara optimal. Termasuk,  bila mahasiswa terjebak dalam hubungan yang kurang sehat atau mengetahui bahwa ada rekan yang kurang sehat hubungan pribadinya, ia merasa berdaya untuk mengungkapkan diri pada apa yang dirasa dan dipikirkan secara nyata.

Fasilitator dalam kegiatan ini melibatkan Desi Maulia, S.Psi., M.Psi. Psikolog (Kepala Pusat Bimbingan Konseling dan Layanan Psikologi UPGRIS) dengan bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah dan Heri Saptadi Ismanto, S.Pd., M.Pd., Kons (Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling UPGRIS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *